citra bitmap

PENGERTIAN CITRA
Citra adalah representasi dari sebuah objek. Citra sebagai keluaran suatu sistem perekaman data dapat bersifat analog, berupa sinyal-sinyal video, seperti gambar pada monitor televisi atau yang bersifat digital yang dapat langsung disimpan pada suatu pita magnetic.
Menurut presisi yang digunakan untuk menyatakan titik-titik kordinat pada domain spatial (bidang), dan untuk menyatakan nilai keabuan atau warna dari suatu citra, maka secara teoritis citra dapat dikelompokkan menjadi empat kelas, yaitu : citra kontinu-kontinu, kontinu-diskrit, diskrit-kontinu, dan diskrit-diskrit. Dimana label pertama menyatakan presisi dari titik-titik koordinat pada bidang citra, sedangkan label kedua menyatakan presisi nilai keabuan atau warna. Kontinu dinyatakan dengan presisi angka tak terhingga, sedangkan diskrit dinyatakan dengan presisi angka terhingga. Komputer digital bekerja dengan angka-angka presisi terhingga. Dengan demikian, hanya citra dari kelas diskrit yang dapat diolah oleh komputer. Citra dari kelas tersebut lebih dikenal dengan citra digital.
Citra dalam format BMP lebih bagus dari pada citra dalam format JPEG, Terjemahan bebas dari bitmap adalah pemetaan bit. Artinya, nilai intensitas pixel di dalam citra dipetakan ke sejumlah bit tertentu. Peta bit yang umum adalah 8, artinya setiap pixel panjangnya 8 bit. Delapan bit ini merepresentasikan nilai intensitas pixel. Dengan demikian ada sebanyak 28 = 256 derajat keabuan, mulai dari 0 sampai 255.
Citra dalam format BMP ada tiga macam : citra biner, citra berwarna, dan citra hitam-putih (grayscale). Citra biner hanya mempunyai dua nilai keabuan, yaitu 0 dan 1. Oleh karena itu, 1 bit sudah cukup untuk merepresentasikan nilai pixel. Citra berwarna adalah citra yang lebih umum. Warna yang terlihat pada citra bitmap merupakan kombinasi dari tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru. Setiap pixel disusun oleh tiga komponen warna : R (red), G (green), dan B (blue). Kombinasi dari tiga warna RGB tersebut menghasilkan warna yang khas untuk pixel yang bersangkutan.
Nilai setiap pixel tidak menyatakan derajat keabuan secara langsung, tetapi nilai pixel menyatakan indeks tabel RGB yang membuat nilai keabuan merah (R), nilai keabuan hijau (G), dan nilai keabuan biru (B) untuk pixel yang bersangkutan. Pada citra hitam-putih, nilai R = G = B untuk menyatakan bahwa citra hitam-putih hanya mempunyai satu kanal warna. Citra hitam-putih  pada umumnya  adalah citra 8 bit.
Citra yang lebih kaya warna adalah citra 24-bit. Setiap pixel panjangnya 24 bit, karena setiap pixel langsung menyatakan komponen warna merah, komponen warna hijau, dan komponen warna biru. Masing-masing komponen panjangnya 8 bit. Citra 24-bit disebut juga citra 16 juta warna, karena ia mampu menghasilkan 224 = 16.777.216 kombinasi warna. (BN Budi Priyanto, 1992)
2.1.1    Citra Analog
Analog berhubungan dengan hal yang kontinu dalam satu dimensi, contohnya adalah bunyi diwakili dalam bentuk analog, yaitu suatu getaran gelombang udara yang kontinu dimana kekuatannya diwakili sebagai jarak gelombang. Hampir semua kejadian alam boleh diwakili sebagai perwakilan analog seperti bunyi, cahaya, air, elektrik, angin dan sebagainya. Jadi citra analog adalah citra yang terdiri dari sinyal -sinyal frekuensi elektromagnetis yang belum dibedakan sehingga pada umumnya tidak dapat ditentukan ukurannya.
2.1.2    Citra Digital
Citra digital adalah citra yang terdiri dari sinyal-sinyal frekuensi elektromagnetis yang sudah di-sampling sehingga dapat ditentukan ukuran titik gambar tersebut yang pada umumnya disebut pixel.
Untuk menyatakan citra (image) secara matematis, dapat didefinisikan fungsi f(x,y) di mana x dan y menyatakan suatu posisi dalam koordinat dua dimensi dan harga f pada titik (x,y) adalah harga yang menunjukkan warna citra pada titik tersebut. Citra digital adalah citra yang dinyatakan secara diskrit (tidak kontinu), baik untuk posisi koordinatnya maupun warnanya. Dengan demikian, citra digital dapat digambarkan sebagai suatu matriks, di mana indeks baris dan indeks kolom dari matriks menyatakan posisi suatu titik di dalam citra, dan harga dari elemen matriks menyatakan warna citra pada titik tersebut. Dalam citra digital yang dinyatakan sebagai susunan matriks seperti ini, elemen-elemen matriks tadi disebut juga dengan istilah pixel yang berasal dari kata picture element.
Untuk mendapatkan suatu citra digital, dapat digunakan alat yang memiliki kemampuan untuk mengubah sinyal yang diterima oleh sensor citra menjadi bentuk digital, misalnya dengan menggunakan kamera digital atau scanner. Cara yang lain adalah dengan menggunakan ADC (Analog-to-Digital Converter) untuk mengubah sinyal analog yang dihasilkan oleh keluaran sensor citra menjadi sinyal digital, misalnya dengan menggunakan perangkat keras video capture yang dapat mengubah sinyal video analog menjadi citra digital. (Aniati Murni, 1992).
2.2       FORMAT FILE CITRA
Sebuah format citra harus dapat menyatukan kualitas citra, ukuran file dan kompatibilitas dengan berbagai aplikasi. Saat ini tersedia banyak format grafik, dan format baru tersebut dikembangkan, diantaranya yang terkenal adalah BMP, JPEG, dan GIF. Setiap program pengolahan citra biasanya memiliki format citra tersendiri. Format dan metode dari suatu citra yang baik juga sangat bergantung pada jenis citranya. Setiap format file citra memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing dalam hal citra yang disimpan.
Citra tertentu dapat disimpan dengan baik (dalam arti ukuran file lebih kecil dan kualitas gambar tidak berubah) pada format file citra tertentu, apabila disimpan pada format lain kadang kala dapat menyebabkan ukuran file menjadi lebih besar dari aslinya dan kualitas citra dapat menurun. Oleh karena itu, untuk menyimpan suatu citra harus diperhatikan citra dan format file citra apa yang sesuai. Misalnya format citra GIF sangat tidak cocok untuk citra fotografi, karena biasanya citra fotografi kaya akan warna, sedangkan format GIF hanya mendukung sejumlah warna sebanyak 256 (8 bit) saja. Format JPEG merupakan pilihan yang tepat untuk citra-citra fotografi, karena JPEG sangat cocok untuk citra dengan perubahan warna yang halus. (Aniati Murni, 1992).
2.2.1    Format Bitmap
Pada format bitmap, citra disimpan sebagai suatu matriks di mana masing-masing elemennya digunakan untuk menyimpan informasi warna untuk setiap pixel. Jumlah warna yang dapat disimpan ditentukan dengan satuan bit-per-pixel. Semakin besar ukuran bit-per-pixel dari suatu bitmap, semakin banyak pula jumlah warna yang dapat disimpan.
Format bitmap ini cocok digunakan untuk menyimpan citra digital yang memiliki banyak variasi dalam bentuknya maupun warnanya, seperti foto, lukisan, dan frame video. Format file yang menggunakan format bitmap ini antara lain adalah BMP, DIB, PCX, GIF, dan JPG. Format yang menjadi standar dalam sistem operasi Microsoft Windows adalah format bitmap BMP atau DIB.
Karakteristik lain dari bitmap yang juga penting adalah jumlah warna yang dapat disimpan dalam bitmap tersebut. Ini ditentukan oleh banyaknya bit yang digunakan untuk menyimpan setiap titik dari bitmap yang menggunakan satuan bpp (bit per pixel). Dalam Windows dikenal bitmap dengan 1, 4, 8, 16, dan 24 bit per pixel. Jumlah warna maksimum yang dapat disimpan dalam suatu bitmap adalah sebanyak 2n, dimana n adalah banyaknya bit yang digunakan untuk menyimpan satu titik dari bitmap. (Aniati Murni, 1992).
Berikut ini tabel yang menunjukkan hubungan antara banyaknya bit per pixel dengan jumlah warna maksimum yang dapat disimpan dalam bitmap.
No
Jumlah bit per pixel
Jumlah warna maksimum
1
1
2
2
4
16
3
8
256
4
16
65536
5
24
16777216
Tabel 2.1 Hubungan Antara Bit Per Pixel deng  Jumlah
Warna Maksimum Pada Bitmap
2.2.2    Format JPEG
JPEG merupakan singkatan dari Joint Photographic Experts Group, merupakan suatu komite yang menyusun standar citra pada akhir tahun 80-an dan awal tahun 90-an. Kata “Joint” pada JPEG melambangkan status data di dalam kerja sama panitia ISO dan ITU_T. Format yang dihasilkan merupakan standar ISO IS-10918.
Format file ini dikembangkan oleh C-Cube Microsystems untuk memberikan sebuah metode yang efisien untuk menyimpan citra dengan jumlah warna yang sangat banyak seperti foto kamera. Perbedaan utama antara format JPEG dengan format citra yang lainnya adalah bahwa file JPEG menggunakan metode lossy untuk proses pemanfaatannya. Pemanfaatan secara lossy akan membuang sebagian data citra untuk memberikan hasil kompresi yang baik. Hasil file JPEG yang didekompres tidak begitu sesuai dengan citra aslinya, tetapi perbedaan ini sangat sulit dideteksi oleh mata manusia. (Munir Rinaldi, 2004).
2.3       KOMPRESI DATA
Kompresi data adalah metode yang dilakukan untuk mereduksi ukuran data atau file. Dengan melakukan kompresi atau pemadatan data, maka ukuran file atau data akan lebih kecil sehingga dapat mengurangi waktu transmisi saat data dikirim, dan tidak banyak menghabiskan ruang medis penyimpanan.
Seiring dengan bertambahnya waktu, ukuran file di dalam media penyimpanan akan semakin bertambah. Hal ini disebabkan karena semakin bertambahnya informasi yang disimpan dalam file ataupun penambahan program aplikasi baru di dalam komputer. Sementara kapasitas media penyimpanan pada komputer adalah bersifat tetap, sehingga user akan mengalami masalah dengan ruang kosong (free space) yang semakin kecil.
Untuk mengatasi masalah kapasitas penyimpanan, sangat penting bagi user untuk menjaga agar ruang kosong hard disk tetap optimal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengkompresi file data. Seiring itu, memasuki era internet, transfer file merupakan hal yang umum dilakukan oleh user. Transfer file dalam jaringan yang dapat dilakukan oleh user yaitu proses download (men-transfer suatu file dari komputer remote ke komputer yang meminta proses pengiriman melalui jaringan) dan upload (men-transfer file dari komputer lokal ke komputer remote).
Bila file yang hendak ditransfer berukuran besar, maka dapat menyebabkan data kongesti, yaitu dalam keadaan dimana informasi yang hendak ditransfer lebih besar daripada yang dapat dibawa oleh jalur komunikasi. Untuk meminimalisasi ukuran file yang hendak di-transfer dapat dilakukan dengan cara kompresi yaitu file yang hendak di-transfer diperkecil ukurannya terlebih dahulu.
Dengan teknik kompresi, file yang besar dapat diperkecil sedemikian rupa sehingga menghemat tempat namun masih dapat dikembalikan ke bentuk original ketika diperlukan. Kompresi berguna ketika hendak memadatkan sejumlah besar file ke dalam tempat penyimpanan atau hendak memperkecil waktu ketika hendak menyalin atau mentransmisi file melalui jaringan.
Terdapat berbagai perangkat seperti Compress, Zip atau Pack seperti Stuffit atau Zipit yang digunakan untuk mengkompresi berbagai jenis file. Algoritma ini hanya tergantung pada pemahaman isi file dan mencari redudansi dari pola sehingga dimungkinkan untuk kompresi.
Algoritma kompresi lainnya (seperti JPEG dan MPEG) bersifat lossy yaitu pada saat dekompresi tidak dapat mengembalikan bentuk file ke sifat originalnya. Algoritma demikian mengkompresi dengan meringkas data. Hasil ringkasan mempertahankan struktur umum dari data tetapi membuang beberapa detailnya. Untuk format suara, video dan gambar, ketidakakuratan ini masih bisa diterima, karena inti dari data masih tetap dipertahankan dan hanya menghilangkan beberapa pixel atau beberapa milidetik penundaan tampilan video. Namun untuk data teks, algoritma ‘lossy’ tidak sesuai untuk diterapkan. Salah satu contoh algoritma untuk mengkompresi file teks dengan data ‘Kompresi Metode Algoritma Run Length Encoding’ dengan menghilangkan semua vocal akan menghasilkan teks menjadi ‘Kmprs Mtd lgrtm Rn Lngth ncdng’.
Data asli dengan 45 karakter telah dikompresi menjadi 30 karakter dan hanya 66% dari ukuran aslinya. Untuk melakukan dekompresi, dapat dicoba untuk mencocokkan huruf konsonan dengan memasukkan huruf vocal, namun sangat sulit untuk menghasilkan kembali bentuk originalnya, karena luasnya kemungkinan kata artificial intelligence yang rumit, sehingga untuk file teks, tidak dapat digunakan algoritma kompresi lossy. (Munir Rinaldi, 2004).
2.3.1    Dekompresi
Sebuah data yang sudah dikompres tentunya harus dapat dikembalikan lagi kebentuk aslinya, prinsip ini dinamakan dekompresi. Untuk dapat merubah data yang terkompres diperlukan cara yang berbeda seperti pada waktu proses kompres dilaksanakan. Jadi pada saat dekompres terdapat catatan header yang berupa byte-byte yang berisi catatan mengenai isi dari file tersebut.
Catatan header akan menuliskan kembali mengenai isi dari file tersebut, jadi isi dari file sudah tertulis oleh catatan header sehingga hanya tinggal menuliskan kembali pada saat proses dekompres. Proses dekompres dikatakan sempurna apabila file kembali kebentuk aslinya. (Munir Rinaldi, 2004).
2.3.2    Lossless dan Lossy Compression
Dalam kompresi data lossless, data yang dikompresi dan didekompresi mempunyai replikasi yang sama dengan data asli. Sedangkan pada kompresi data lossy, data yang didekompresi dapat berbeda dari data asli.
Program kompresi data populer seperti WinZip, WinRar dan Win Ace merupakan salah satu contoh data kompresi data lossless. JPEG merupakan salah satu contoh dari kompresi data lossy.
2.3.3    Perbedaan antara Compression Rate dan Compression Ratio
Terdapat dua jenis aktivitas utama dalam aplikasi kompresi data, yaitu transmisi dan penyimpanan. Contoh aplikasi transmisi adalah speech compression, untuk transmisi secara real time melalui jaringan digital selular, sedangkan contoh aplikasi penyimpanan adalah kompresi file (contoh seperti program Drivespace dan Doublespace).
Istilah “Compression Rate” dipakai dalam transmisi, sementara istilah “Compression Ratio” berasal dari istilah teknik penyimpanan data. Compression Rate merupakan transmisi data dimana laju kompresi dari data yang dikompresi. Secara tipikal satuannya adalah bits/sample, bits/character, bit/pixel, atau bits/second. Compression Ratio merupakan teknik penyimpanan data dimana rasio atau perbandingan antara ukuran atau laju data yang dikompresi dengan ukuran atau laju dari data asli.
2.4       METODE KOMPRESI DATA
Organisasi–organisasi yang mengoperasikan jaringan komputer sering kali mengharapkan dapat menekan biaya pengiriman data. Biaya pengiriman itu sangat tergantung dengan banyaknya byte data yang dikirimkan. Oleh karena itu, dengan melakukan kompresi terhadap data, akan dapat menghemat biaya pengiriman.
Istilah kompresi tersebut diterjemahkan dari kata bahasa Inggris “compression” yang berarti pemampatan. Dalam bidang teknik, kompresi berarti proses pemampatan sesuatu yang berukuran besar sehingga menjadi kecil. Dengan demikian, kompresi data berarti proses untuk pemampatan data agar ukurannya menjadi lebih kecil.
Pemampatan ukuran berkas melalui proses kompresi hanya diperlukan sewaktu berkas tersebut akan disimpan dan atau dikirim melalui media transmisi atau telekomunikasi. Apabila berkas tersebut akan ditampilkan lagi pada layar monitor, maka data yang terkompresi tersebut harus dikembalikan pada format semula agar dapat dibaca kembali. Proses mengembalikan berkas yang dimampatkan ke bentuk awal inilah yang disebut dekompresi.
Satuan yang cukup penting dalam kompresi data adalah compression ratio yang menggambarkan seberapa besar ukuran data setelah melewati proses kompresi dibandingkan dengan ukuran berkas yang asli.
Beberapa teknik kompresi data yang telah banyak digunakan adalah Bit Mapping, Half byte packing, Diatomic Encoding, Huffman, Arithmatic Encoding, Run Length Encoding. (Munir Rinaldi, 2004)
2.4.1    Bit Mapping
Pada teknik ini digunakan bitmap (peta bit) yang berisi data posisi dari karakter-karakter yang bukan null. Gambar 2.1 berikut ini adalah data asli data sebelum dikompres. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa dari seluruh data (8 karakter) hanya ada tiga buah karakter yang bukan null.
 

         Data1       Null      Null      Data2      Null      Null        Nul      Data3
Gambar 2.1 Data sebelum dikompresi
Pada gambar 2.1, dapat dilihat bahwa karakter yang disisipkan sebagai bitmap ditulis dalam biner, yaitu 10010001. Urutan bit semacam ini memberi informasi bahwa data yang bukan null terletak pada posisi pertama, keempat dan kedelapan. Apabila banyaknya karakter data yang dikompres cukup panjang, maka diperlukan bitmap yang lebih panjang pula. Dalam prakteknya, agar manipulasi bitmap lebih mudah ditentukan, maka panjang bitmap merupakan kelipatan 8, yang merupakan satuan standar dari sebagian besar komputer.
 

10010001
Data1
Data2
Data3
Gambar 2.2 Bitmap data setelah dikompresi
Apabila data pada gambar 2.2. dikompres dengan teknik bitmap, maka ukuran berkas menjadi 4 karakter. Itu berarti setengah dari ukuran data semula. Untuk data yang berukuran besar, angka ini cukup menguntungkan.
Disamping kelebihan yang ada, teknik ini juga memiliki sedikitnya dua kelemahan. Pertama, keharusan bahwa ukuran semua data harus sama, misalnya 8 bit atau 16 bit. Apabila ukuran data yang akan dikompres berbeda, penentuan bitmap-nya akan mengalami kesulitan. Kedua, teknik ini tidak mempertimbangkan karakter lain yang frekuensinya diawali karakter yang akan dihilangkan (misalnya null), meskipun frekuensinya tidak jauh berbeda. Sebagai contoh, dalam suatu berkas null muncul sebanyak 100 kali, dan karakter “a” muncul 900 kali. Berdasarkan metode bitmap maupun null suppression, maka yang harus dihilangkan adalah karakter null, meskipun frekuensi kemunculan “a” juga cukup tinggi. Dengan demikian, seolah-olah teknik ini mengabaikan kesempatan untuk menghasilkan kompresi yang lebih baik. Untuk mengantisipasi kelemahan ini, ada teknik lain yang bisa memperbaikinya, yaitu teknik run length. (Munir Rinaldi, 2004).
2.4.2    Half Byte Packing
Teknik Half Byte Packing dapat dipandang sebagai turunan dari teknik bit mapping. Teknik ini memanfaatkan sifat-sifat yang unik dari suatu jenis data. Sebagai contoh, data yang berupa bilangan-bilangan desimal, tentu interval simbolnya hanya dari 0 sampai dengan 9. Kalau bilangan-bilangan tersebut disajikan dengan standar ASCII maka penyajian binernya cukup unik seperti terlihat pada tabel 2.2.
No
Desimal
Biner
1
0
1100 0000
2
1
1100 0001
3
2
1100 0010
4
3
1100 0011
5
4
1100 0100
6
5
1100 0101
7
6
1100 0110
8
7
1100 0111
9
8
1100 1000
10
9
1100 1001
Tabel 2.2 Penyajian Bilangan Biner
Dari tabel diatas terlihat bahwa 4 bit pertama dari setiap bilangan adalah sama, yaitu 1100. Dengan demikian, apabila 4 bit pertama ini dihilangkan, tidak akan mengubah informasi yang terkandung, asalkan ada kode khusus yang mencatat hal ini. Oleh karena banyaknya bit yang bisa dihilangkan sebanyak 4, maka satu byte akan bisa menampung 2 buah karakter.
Seperti halnya pada teknik-teknik lain, dalam half byte packing juga memerlukan karakter khusus sebagai tanda dari sederetan data yang sudah dikompres. Format dari teknik half byte packing dapat dilihat pada tabel 2.3.
Sc
Hbc
N2
N4
N6
...
N14
N1
N3
N5
N7
N15
Tabel 2.3 Format Teknik Half Byte Packing
Keterangan dari tabel 2.3. adalah sebagai berikut : Sc adalah karakter khusus sebagai tanda kompresi, Hbc adalah penghitung banyaknya bilangan yang dikompres, Ni adalah bilangan yang sudah dikompres.
Pada teknik ini, penghitung banyak karakter yang dikompres biasanya terdiri dari 4 bit. Dengan demikian, hanya 16 deret data yang bisa dicatat yang masing-masing berukuran 4 bit. Contoh berikut menjelaskan kompresi untuk data berupa tanggal “ 20 Januari 1995”.
Data asli dalam bentuk desimal
2011995
Data asli dalam bentuk biner
1100 0010       1100 0000       1100 0001       1100 0001
1100 1001       1100 1001       1100 0101
Data yang dikompres
@1100                        0010   0000   0001   0001    1001    1001    0101
2.4.3    Diatomic Encoding
Diatomic encoding adalah teknik kompresi yang bekerja dengan cara mengganti dua buah kombinasi karakter dengan sebuah karakter lain. Teknik diatomic encoding memanfaatkan saat bahwa ada kombinasi tertentu dari dua buah karakter yang sering muncul pada suatu teks tertentu. Proses diatomic encoding dapat dilihat pada gambar 2.3.
Karakter ke n-1

Karakter Khusus
 
Karakter ke n
Gambar 2.3 Proses Diatomic Encoding
Masing–masing bahasa maupun jenis berkas mempunyai ciri yang khas dalam hal kombinasi karakter–karakternya. Sebagai contoh dalam bahasa Indonesia banyak ditemui kombinasi karakter “a” dengan karakter “n”, karena kombinasi ini disubsitusikan dengan sebuah karakter lain yang khas, maka akan diperoleh pengurangan ukuran berkas maksimum setengahnya.
2.4.4    Algoritma Kompresi Huffman
Algoritma Huffman dikembangkan oleh David A Huffman saat di bangku kuliah di Massachusetts Institute Technology . Algoritma ini merupakan karya ilmiah dari Huffman yang ditulis pada tahun 1952 dengan judul ‘A Method for the Construction of Minimum Redundancy Codes’. Kode Huffman merupakan hasil pengembangan dari algoritma yang sebelumnya dikembangkan oleh Claude Shannon dan R.M Fano pada awal tahun 1950 dan dikenal sebagai Shannon – Fano Coding.
Algoritma Huffman termasuk jenis kompresi ‘lossless’. Lossless artinya bahwa kompresi dilakukan tanpa kehilangan informasi (yaitu pada proses dekompresi menghasilkan file sebenarnya). Kelebihan algoritma ini terletak pada kebanyakan file data mengandung redundansi. Huffman menemukan cara untuk memanfaatkan redundansi pada suatu file sehingga mengecilkan ukuran file tanpa kehilangan informasi yang terkandung di dalamnya. Pengertian redundansi dalam algoritma Huffman mengacu pada perulangan karakter tertentu lebih dari satu kali dalam suatu dokumen.
Algoritma ini menggunakan suatu variabel sebagai representasi biner untuk setiap karakter dalam suatu dokumen, dengan memberikan biner yang terpendek dan karakter dengan frekuensi yang lebih jarang muncul sebagai representasi biner yang terpanjang.
2.4.5    Arithmatic Encoding
Metode arithmetic encoding diusulkan oleh Elias, dan yang diperkenalkan oleh Abramson dalam Information Theory (Abramson 1963). Implementasi tentang teknik Elias dikembangkan oleh Rissanen (1976), Pasco (1976), Rubin (1979), dan Witten et al (1987). Algoritma arithmetic encoding termasuk jenis kompresi ‘lossless’.
Di dalam metode arithmetic encoding suatu pesan yang telah dikompresi diwakili oleh suatu nilai statistik yang berkisar antara 0 dan 1. Masing-masing karakter dari pesan sumber diwakili oleh nilai interval yang berkisar antar 0 dan 1. (Gonzales Rafael C, 1992)
2.4.6    Run Length Encoding (RLE)
Berbeda dengan teknik-teknik sebelumnya yang bekerja berdasarkan karakter per karakter, teknik run length ini bekerja berdasarkan sederetan karakter yang berurutan. Run Length Encoding adalah suatu algoritma kompresi data yang bersifat lossless. Algoritma ini mungkin merupakan algoritma yang paling mudah untuk dipahami dan diterapkan.
Run Length Encoding (RLE) adalah algoritma kompresi yang sangat mendasar. RLE mempunyai hak paten bebas, yang berarti seseorang dapat menggunakan algoritma kompresi RLE dengan bebas. Metode kompresi ini sangat sederhana, yaitu hanya memindahkan pengulangan byte yang sama berturut-turut (secara terus menerus). Data masukan akan dibaca dan sederetan karakter yang sesuai dengan deretan karakter yang sudah ditentukan sebelumnya disubstitusi dengan kode tertentu. Kode khusus ini biasanya terdiri dari tiga buah karakter, seperti yang terlihat pada gambar 2.4.
Sc
X
Cc

Komentar

Postingan Populer